SEMAKIN LAMA MERASA SEPI, SEMAKIN RENDAH PSYCHOLOGICAL WELL-BEING? STUDI PADA DEWASA AWAL
Kata Kunci:
Loneliness, Psychological Well-Being, Dewasa AwalAbstrak
Dewasa awal merupakan kelompok usia yang rentan mengalami loneliness karena berada pada fase transisi perkembangan yang ditandai oleh perubahan peran, tuntutan akademik, pekerjaan, relasi interpersonal, dan proses pembentukan identitas diri. Meskipun memiliki banyak kesempatan untuk membangun relasi sosial, tidak sedikit dewasa awal yang mengalami kesepian dalam jangka waktu yang beragam, mulai dari beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun. Kondisi tersebut menjadi perhatian penting karena loneliness yang berlangsung dalam waktu lama berpotensi menurunkan psychological well-being atau kesejahteraan psikologis individu. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan tingkat psychological well-being pada dewasa awal berdasarkan durasi loneliness yang dialami. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain deskriptif. Partisipan penelitian berjumlah 114 dewasa awal yang pernah mengalami loneliness. Pengumpulan data dilakukan menggunakan Skala Psychological Well-Being yang dikembangkan berdasarkan enam dimensi, yaitu self-acceptance, personal growth, purpose in life, environmental mastery, autonomy, dan positive relations. Analisis data dilakukan menggunakan statistik deskriptif dengan menyajikan frekuensi, nilai rata-rata, standar deviasi, skor minimum, skor maksimum, serta visualisasi distribusi data melalui grafik Q-Q Plot. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelompok yang mengalami
loneliness kurang dari enam bulan memiliki rata-rata psychological well-being tertinggi (M = 98,88), sedangkan kelompok yang mengalami loneliness selama 6–12 bulan (M = 93,55) dan lebih dari satu tahun (M = 93,97) menunjukkan rata-rata yang lebih rendah. Grafik Q-Q Plot juga menunjukkan adanya variasi kondisi psikologis antarsubjek, terutama pada kelompok yang mengalami loneliness berkepanjangan. Secara keseluruhan, hasil penelitian mengindikasikan bahwa semakin lama durasi loneliness yang dialami, semakin besar kecenderungan terjadinya penurunan psychological well-being pada dewasa awal. Temuan ini menegaskan pentingnya upaya preventif dan promotif melalui penguatan dukungan sosial, peningkatan kemampuan adaptasi, dan pengembangan sumber daya psikologis untuk menjaga kesejahteraan psikologis dewasa awal.